Selasa, 19 Desember 2017

Pewarnaan Ziehl Neelsen

 

 

Pewarnaan Ziehl Neelsen, termasuk pewarnaan tahan asam. Biasanya dipakai untuk mewarnai golongan Mycobacterium (M. tuberculosis dan M. leprae) dan Actinomyces.
Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies nocardia pada dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga bersifat permeable dengan pewarnaan biasa. Bakteri tersebut bersifat tahan asam (+) terhadap pewarnaan tahan asam. Pewarnaan tahan asam dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa tuberculosis.
Pewarnaan ini merupakan prosedur untuk membedakan bakteri menjadi 2 kelompok tahan asam dan tidak tahan asam.
Bila zat warna yang telah terpenetrasi tidak dapat dilarutkan dengan alkohol asam, maka bakteri tersebut disebut tahan asam sedangkan sebaliknya disebut tidak tahan asam.

Bahan pemeriksaan TB biasanya berupa sputum yang diambil dari pasien tersangka KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula diambil dari lokasi lain seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis), getah lambung, urine, ulkus, dll.

Prinsip Pewarnaan

Bakteri tahan asam (BTA) akan memberikan warna merah, sedangkan yang tidak tahan asam akan berwarna biru.


Cara Pewarnaan Ziehl Neelsen

A. Alat dan Bahan:
1. Object glass
2. Carbol fuchsin 0,3%
3. Alkohol asam 3% (Alkohol + konsentrasi HCl 3%)
4. Methylen-blue 0,3%
5. Air
6. Ose
7. Lampu bunsen/spiritus

B. Cara Membuat Sediaan:
1.    Bersihkan objek gelas, beri label
2.    Sterilkan ose, dinginkan
3.    Ambil 1 ose sputum yang kental (hijau kuning) letakkan diatas objek gelas, ratakan.
4.    Sediaan biarkan kering pada suhu kamar.
5.    Setelah kering fiksasi denga melewatkkan diatas nyala api sebanyak 3 x, sediaan siap untuk diwarnai.

C. Cara Pewarnaan ZN:
1.    Sediaan dituangi Carbol Fuchsin sampai penuh
2.    Panaskan selama 3-5 menit, jangan sampai mendidih
3.    Biarkan dingin selama 5 menit, cuci dengan air
4.    Dekolorisasi dengan alkohol asam 10-30 detik, cuci dengan air
5.    Tuangi dengan methylen blue selama 20-30 detik, cuci dengan air


Tambahan:
Cara pemeriksaan BTA dari sputum dengan oil imersi

1. Teteskan oil imersi pada sediaan  sputum lihat pada pembesaran lensa objektif 100x carilah BTA yang berbentuk batang warna merah.
2. Periksa dengan cara mengeser dan membentuk zig zag dari atas kebawah kemudian ulangi dengan berlawanan arah.

Pembacaan BTA sputum menggunakan skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases)

Tidak ditemukan BTA dalam 100 lp, disebut negatif
Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lp, ditulis jumlah kuman yang ditemukan
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lp, disebut + atau (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lp, disebut ++ atau (2+)
Ditemukan >10 BTA dlam 1 lp, disebut +++ atau (3+)
Pengertian Kultur Darah

Kultur darah adalah tes untuk mendeteksi kuman seperti bakteri atau jamur dalam darah. Kebanyakan kultur darah untuk memeriksa bakteri yang ada di dalamnya. Ketika seseorang memiliki gejala infeksi – seperti demam tinggi atau menggigil – dan dokter mencurigai kuman telah menyebar ke dalam darah, maka dengan kultur darah dapat menentukan jenis kuman yang menyebabkan infeksi.
Untuk melakukan kultur darah, dokter akan mengambil sampel darah dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Hasilnya baru dapat diketahui dalam beberapa hari. Jika seorang anak sakit parah, dokter mungkin akan memulai perawatan sebelum mendapatkan hasil lengkap kultur darah, pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab infeksi yang paling mungkin. Pengobatan ini pun dapat diubah menjadi pengobatan untuk mikroba yang sesuai dengan yang ditemukan pada kultur dan sensitivitas antibiotik dari bakteri atau jamur telah ditentukan.


Kenapa dilakukan kultur darah?
Selama perjalanan penyakit, beberapa bakteri dan jamur penyebab infeksi dapat menyerang aliran darah dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, jauh dari lokasi infeksi aslinya. Kehadiran mereka dalam darah biasanya berarti bahwa seorang memiliki infeksi serius. Infeksi tersebut biasanya menyebabkan detak jantung lebih cepat, demam tinggi, dan peningkatan jumlah sel darah putih.
Tujuan kultur darah adalah untuk mengungkapkan sejumlah infeksi atau adanya masalah, seperti endokarditis, masalah berat dan berpotensi mengancam nyawa yang terjadi ketika bakteri dalam aliran darah ke katup jantung.
Kultur darah mungkin juga mendeteksi organisme penyebab infeksi lain seperti osteomyelitis, infeksi tulang sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus, dan selulitis, suatu infeksi kulit yang melibatkan jaringan tepat di bawah permukaan kulit.


Bagaimana proses mengambil kultur darah?
Idealnya kulit harus dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air steril yang diikuti pemberian cairan yodium berbasis solusi. Kemudian dicuci dengan larutan alkohol 70% dan dikeringkan sekitar 30 detik.
Setiap usaha untuk menggunakan teknik aseptik harus dilakukan, misalnya Betadine dan / atau alkohol semprot dan sarung tangan. Beberapa studi menunjukkan tingkat kontaminasi mungkin tergantung pada jenis larutan antiseptik digunakan.
Sterilisasi kulit harus dilakukan dengan hati-hati karena penting untuk mencegah kontaminasi dari darah yang sedang ditarik. Dengan begini dapt membunuh bakteri yang mungkin berada di permukaan kulit sehingga mereka tidak muncul dalam kultur darah dan mengganggu identifikasi kuman penyebab infeksi.


Kultur Darah-Bacillus spp
Kultur Darah-Bacillus spp
Kontaminan yang paling sering seperti Staphylococcus epidermidis, Corynebacterium spp, Propionibacterium spp dan Bacillus spp. (tapi bukan B. anthracis. Kadang-kadang terlihat seperti banyak darah diambil untuk dilakukan kultur, tetapi penting bahwa darah cukup untuk mendapatkan hasil yang akurat. Darah yang diambil mungkin kurang dari satu sendok teh (5 mL) pada bayi dan 1-2 sendok teh (5-10 mL) pada anak-anak yang lebih tua. Jumlah darah yang diambil sangat kecil dibandingkan dengan jumlah darah dalam tubuh, dan itu akan diperbaharui dalam waktu 24-48 jam.
Setelah kultur darah yang diambil, harus diberi label dan dikirim ke laboratorium tanpa penundaan. Kultur dasar diinkubasi selama 14 hari dan blind culture dilakukan setelah 3, 7 dan 14 hari atau segera setelah ada tanda-tanda pertumbuhan (misalnya kekeruhan, hemolisis, koloni di lereng agar dalam wadah. Cara pemeriksaan kultur darah dengan mencari hasil positif, dilakukan minimal dua kali sehari saat menggunakan sistem manual.
Sistem otomatis telah tersedia, salah satu contohnya adalah BacT/Alert Blood Culture System di mana pertumbuhan positif melepaskan CO2 yang dideteksi oleh sensor yang memberitahu staf laboratorium (wadah ditempatkan dalam lemari khusus dan terkait dengan barcode pasien).
Jika dideteksi adanya pertumbuhan, wadah dilakukan subkultur dan stain Gram. Dari sini, sensitivitas yang relevan dapat ditentukan. Dalam beberapa kasus organisme dapat diidentifikasi dalam hitungan jam untuk mendeteksi hasil yang positif dengan menggunakan tes pewarnaan Gram dan tes lebih lanjut.
Pemeriksaan lebih lanjut yang mungkin dilakukan langsung pada biakan darah untuk mempercepat identifikasi seperti pengelompokan streptokokus, tes koagulasi, tes antigen untuk pneumococcus dan meningococcus, dll. Metode modern seperti Vitek telah membantu dalam mempercepat identifikasi organisme dan dapat dilakukan langsung dari wadah kaldu.
Para ahli mikrobiologi kemudian akan meninjau hasil dan menginformasikan staf yang terlibat dalam perawatan pasien. Dengan demikian, pasien akan memulai terapi sementara dan ini akan dikonfirmasi setelah sensitivitasnya dikenali. Biasanya, jika harus ada pertumbuhan, umumnya hanya ada satu organisme, namun sangat jarang, mungkin ada lebih dari satu organisme dan laboratorium akan melakukan tes kepekaan dan tes lanjutan untuk semuanya.

Kultur mikrobiologi


 
Sel darah merah pada cawan berisi agar digunakan untuk mendiagnosis infeksi. yang sebelah kiri positif terinfeksi oleh Staphylococcus (bakteri berkoloni), yang kanan positip terinfeksi oleh Streptococcus (berderet sambung-menyambung).
 
Kultur mikrobiologi, adalah suatu metode memperbanyak mikroba pada media kultur dengan pembiakan di laboratorium yang terkendali. Microbial cultures atau kultur mikrobiologi digunakan untuk menentukan jenis dari organisme tersebut, keberlimpahannya, atau keduanya. Ini adalah metode diagnostik utama dari mikrobiologi dan digunakan sebagai alat untuk menentukan penyebab dari penyakit infeksi dengan membiarkannya berkembangbiak di medium tertentu. Sebagai contoh, kultur tenggorokan mengambil contoh dengan menyapu bagian ujung dalam tenggorokan dengan cotton bud yang panjang dan membiakkannya pada cawan petri dengan agar, sehingga dapat diketahui mikroba yang berbahaya, misalnya Streptococcus pyogenes, yang menyebabkan penyakit strep throat.[1] Selanjutnya, terma kultur lebih umum digunakan secara tak resmi untuk "pengembangbiakan secara selektif (selectively growing)" mikroba tertentu di laboratorium.
Kultur mikrobiologi adalah metode dasar yang banyak digunakan sebagai alat riset pada biologi molekular. Seringkali berguna untuk mengisolasi kultur murni dari mikroba. Kultur murni (atau axenic) adalah populasi dari sel-sel atau organisme multisel yang tumbuh tanpa kehadiran yang lainnya. Kultur murni dapat dimulai dari satu sel atau satu organisme, jadi akan terjadi genetic clones dari yang laiinnya.
Untuk kegunaan kultur mikrobiologi digunakan agar yang berasal dari rumput laut. Yang lebih murah adalah guar gum, dan bisa digunakan untuk mengisolasi dan memelihara thermophiles.

Kultur bakteri

Kultur bakteri dapat ditumbuhkan pada cawan petri berbagai ukuran yang terisi lapisan agar. Setelah agar dikenai bakteri (inokulasi), maka cawan petri diinkubasi pada temperatur yang optimum untuk pengembiakan bakteri tertentu (biasanya 37 derajat Celsius untuk kultur dari manusia atau hewan, atau lebih rendah untuk kultur lingkungan).
Cara lain dari kultur bakteri adalah kultur cair (liquid culture), dimana bakteri yang dinginkan direndam dalam cairan kaldu (liquid broth), yang merupakan media bernutrisi. Hal ini ideal untuk persiapan antimicrobial assay. Peneliti akan menginokulasi cairan kaldu dengan bakteri dan membiarkannya berkembang semalaman (mungkin diperlukan penggoyang/shaker agar bakeri tumbuh seragam). Kemudian dilakukanlah tes dengan berbagai macam obat atau protein (antimicrobial peptides) untuk melihat keampuhan dari tiap-tiap obat.
Sebagai pilihan, ahli mikrobiologi dapat menggunakan kultur cair statis dimana tidak diperlukan penggoyang, tetapi perlu pemberian oksigen yang cukup untuk mikroba tertentu.[2]

Di Indonesia

Di Indonesia, di Laboratorium Klinik banyak dilakukan Kultur bakteri dengan biaya -/+ Rp 500,000. Mahal, tetapi mungkin diperlukan untuk mengatasi Resistensi obat berganda dimana menggunakan berbagai macam obat antibiotik, tetapi penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Sebenarnya menunggu hingga penyakitnya tidak sembuh-sembuh sudah salah besar, karena menghabiskan dana dan juga tidak baik bagi kesehatan, karena minum berbagai macam obat antibiotik tanpa hasil. Yang terbaik adalah (apalagi jika penyakitnya kronis), maka sebelum obat pertama antibiotik diminum, dilakukan kultur terlebih dahulu. Hasil kultur bisa didapatkan antara 5-7 hari. Selain jenis bakterinya, juga akan diketahui obat apa saja yang sudah resisten (tidak mempan) dan obat yang masih sensitif (mempan), hasil ini dicocokkan dengan obat antibiotik yang sudah kita minum, jika tidak tepat, maka obat antibiotik yang masih ada harus dihentikan dan diganti dengan yang masih sensitif dengan memperhatikan segenap efek sampingnya. Kultur bakteri ini perlu untuk mengatasi penyakit Infeksi saluran kemih yang berulang dimana tiap kali sakit bakterinya bisa berbeda-beda, juga untuk mengatasi sinusitis yang biasanya memerlukan pengobatan jangka panjang (lebih dari satu minggu), sehingga obat yang paling tepatlah yang harus dipilih. Untuk terduga tuberkulosis, juga diperlukan pemeriksaan kultur bakteri untuk mengetahui apakah benar bakteri TB yang menginfeksi, demikian pula perlu diketahui obat apa yang masih mempan (pengobatan TB sedikitnya perlu 6 bulan secara kontinu).[3]

Referensi

  1. ^ Healthwise, Incorporated (2010-06-28). "Throat Culture". WebMD. Diakses tanggal 2013-03-10.
  2. ^ Old, D.C.; Duguid, J.P. (1970). "Selective Outgrowth of Fimbriate Bacteria in Static Liquid Medium". Journal of Bacteriology (American Society for Microbiology) 103 (2): 447–456. PMID 248102.
  3. ^ Ricky Reynald Yulman (1 April 2015). "TB, Bakteri Lebih Cepat Terdeteksi".



Pewarnaan Ziehl Neelsen     Pewarnaan Ziehl Neelsen, termasuk pewarnaan tahan asam. Biasanya dipakai untuk mewarnai golongan Mycobact...